Powered By Blogger

Jumat, 09 Desember 2011

Kondisi Terkini Desa Blongkeng

Banjir lahar dingin yang menerjang Kali Putih pada tanggal 28 November 2011 lalu, telah mengakibatkan tebing Kali Putih di Dusun Karangasem, Desa Blongkeng kembali longsor, setelah sekian lama tidak terjadi longsor. Nah, pada tanggal 9 Desember 2011 sore, kami menuju tempat kejadian. Di sana, kami menemukan beberapa fakta terbaru.
Titik longsor terparah berada persis di sebelah selatan Jembatan Karangasem yang sudah putus. Ya, di sana, lebar Kali Putih sudah mencapai hampir 80 meter lebih. Gila !!! Untuk sebelah utara jembatan, keadaannya masih mendingan, karena dampak longsor tak separah di sebelah selatan jembatan. Konon, di situlah aliran lahar dingin Kali Putih mengalami over slah atau penyimpangan arus. Karena tebing begitu tinggi, aliran lahar pun berjalan zig - zag. Akibatnya, tebing pun longsor ke Kali Putih, berikut bangunan yang berdiri di atasnya ( terutama yang kondisinya sudah menggantung ).
Konon, menurut warga sekitar, dahulu, di sekitar tebing yang longsor, terdapat dam penahan lahar dingin. Karena tertahan dam, aliran lahar pun menghantam tebing sehingga longsor.
Sebenarnya, di atas tebing, terdapat berumpun - rumpun pohon bambu yang dianggap dapat melindungi tebing. Sayangnya, berumpun - rumpun pohon bambu itu telah hilang bersama dengan tebing yang longsor ke sungai, beserta puluhan rumah yang telah longsor. Tak dapat terbayangkan begitu dahsyatnya lahar dingin sehingga mampu melongsorkan tebing (yang tanahnya merupakan tanah liat) hingga puluhan meter lebarnya.
Jika anda pergi ke Karangasem, mampirlah ke jembatan Karangasem yang sudah putus itu, dan lihat di sebelah selatannya. Anda akan menyaksikan, Kali Putih menjadi selebar itu. Bayangkan, berapa banyak rumah yang longsor ke sungai (termasuk musola yang sudah hilang entah ke mana).Kejadian ini mengingatkan kita pada bagaimana Dusun Sudimoro, Desa Adikarto, Muntilan atau Dusun Ngipik, Gondosuli, Muntilan yang terancam hilang karena lahar dingin di aliran Kali Pabelan menggerus tebing hingga hampir mencapai ratusan meter. (Wah!!)
Sayangnya, jika di Gondosuli tebing yang sudah longsor dibronjong sehingga longsor (Insya Allah) tidak berlanjut, (kenapa) tebing Kali Putih di Karangasem tidak mendapatkan perlindungan seperti itu, sehingga rumah yang longsor pun bertambah. Padahal, pada bulan Mei lalu, para relawan dan tentunya warga sekitar sudah membangun bronjong bambu di sebelah selatan Jembatan Karangasem (tepatnya di lokasi terparah longsor itu). Bronjong bambu itu sudah diisi dengan batu. Namun, karena lahar dingin begitu kuat, bronjong pun hanyut entah ke mana.

 Jembatan Karang Asem yang sudah putus.
 Tebing Kali Putih yang ambrol 
Aku sempat mejeng dengan latar belakang Kali Putih 

Di sejumlah titik, kami menemukan beberapa rumah yang kondisinya sudah berbahaya untuk ditempati. Sebagian karena retak, karena pondasi tergerus, pekarangan hilang, atau bahkan sebagian bangunan sudah hilang. Lah, di salah satu sudut tebing, kami menemukan ada sebuah rumah milik warga yang bercat warna kuning, kondisinya sudah mengkhawatirkan. Kenapa ? Karena persis di depan rumah itu, langsung Kali Putih. Atap teras rumah itu sudah miring - miring. Yang disayangkan lagi, padahal rumah tersebut cukup bagus. Namun, celakanya, rumah itu terancam roboh karena bagian depan rumah berbatasan langsung dengan sungai. Apa daya. Jika Gusti Allah menghendaki, rumah sebagus itu bisa dijadikan-Nya seperti itu.

 Tak jauh dari rumah itu, kami menemukan ada bekas kandang ayam yang sudah dibongkar karena kondisinya sudah mengkhawatirkan. Di sebelah bekas kandang ayam itu, kami juga menemukan sebuah pondasi bangunan (kayaknya) yang sebagian sudah longsor ke sungai.

 Kandang ayam

  Kayaknya ini bekas pondasi bangunan. 

Sebuah bangunan yang sudah ambruk di dekat kandang ayam 

Ketika kami ingin pulang ke Muntilan lewat Karangrejo, kami sempat kebingungan mencari terusan jalan setapak yang dibuat warga sebagai ganti dari jalan lama yang telah putus karena longsor ke sungai. Ternyata, akibat longsoran yang semakin melebar, jalan darurat pun digeser ke beberapa tanah yang difungsikan sebagai jalan sementara.
Jalan darurat itu melewati sebelah rumah warga yang mentoknya entah (saya tidak tahu) ke mana.
Maklum, jalan kampung yang lama putus akibat longsor ke Kali Putih setelah diterjang banjir lahar dingin beberapa waktu yang lalu. Akibatnya, warga Karangasem terancam terisolir, mengingat jalan tersebut merupakan jalur evakuasi mereka.

 Jalan darurat pengganti jalan lama yang putus

Sempat tanya - tanya warga seputar jalan tembus ke Karangrejo.

  Masih di Dusun Karangasem, sebuah sekolah yaitu SD Negeri Blongkeng 1, kini terancam longsor ke sungai. Kenapa? Di belakang sekolah itu, sudah berbatasan langsung dengan Kali Putih. Jarak antara bagian belakang sekolah dengan Kali Putih hanya setengah meter, bahkan ada yang berjarak sampai 0 meter. Pelindung tebing itu hanyalah berumpun - rumpun bambu yang menurut kepala SD Blongkeng 1, Bapak Maduri, sangat tidak kuat jika dihantam material lahar dingin. Bayangkan. Jika tebing itu longsor, mungkin saja bangunan sekolah juga ikut longsor. Namun sayangnya, sampai saat ini sekolah belum direlokasi karena selain tak tersedia biaya, tak tersedia tanah baru untuk membangun gedung sekolah baru.

 SD Blongkeng 1

Akhirnya, kami pun pulang lewat utara. Nah, mengakhiri perjalanan kami, kami sempat mampir ke sekitar Balai Desa Blongkeng. Di sana, berdiri beberapa shelter box berupa tenda (kayak yang pernah ada di Lapangan Jumoyo itu loh). Namun, masalahnya, apakah satu shelter box cukup untuk satu keluarga?

Shelter box
Balai Desa Blongkeng
Dan berikut ini cuplikan video perjalanan kami.

 
 
Bagi siapa yang ingin membantu dapat menghubungi ke 087734056976. Karena bantuan anda walaupun sekecil apapun sangat membantu saudara kita.